PRAKTIKUM REAKSI REDOKS SPONTAN



PRAKTIKUM REAKSI REDOKS SPONTAN
LOGO SMANSA.jpg









Oleh :
Fijria Fidlika Dita P
Hafid Abi Daniswara
Nina Bonita
Rifaldy Nabiel E
Wieke Widiaputri
Syahara Almasyafana

PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 TUBAN
Jalan W.R. Supratman 2 TubanTelp (0356) 321272 Fax (0356)321272
E-mail / Website :sman1tuban@gmail.com / www.smansatuban.sch.id

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala kelimpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan “Laporan Praktikum  Reaksi Redoks Spontan”.
            Kami juga mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing kami, yaitu Ibu Nur Aliyah, S. Pd. atas segala bimbingan dan pengarahannya sehingga kami dapat menyusun laporan praktikum tentang Reaksi Redoks Spontan ini dengan baik. Dalam laporan praktikum tentang “Enzim Katalase” ini, kami menyajikan tentang bahan dan alat yang diperlukan dalam praktikum, langkah kerja, hasil pengamatan, pembahasan, serta simpulan.
            Kami meminta maaf apabila terdapat kesalahan isi maupun informasi dari laporan yang kami sajikan. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna selain Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran agar laporan hasil pengamatan  ini lebih baik dan bermanfaat. Semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.



Tuban, Oktober  2017


Penyusun








BAB I

PENDAHULUAN



1.1    Latar Belakang

Konsep reduksi dan oksidasi (redoks) berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen, penyerahan dan penerimaan elektron, serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. Reaksi reduksi-oksidasi merupakan reaksi yang berlangsung pada proses-proses elektrokimia, yaitu proses kimia yang menghasilkan arus listrik dan proses kimia yang menggunakan arus listrik.
Reaksi redoks adalah gabungan dari reaksi reduksi dan reaksi oksidasi yang berlangsung bersamaan. Tidak ada peristiwa pelepasan elektron (reaksi oksidasi) tanpa disertai peristiwa penangkapan elektron (reaksi reduksi). Reaksi redoks dapat berlangsung spontan maupun tidak spontan.
Reaksi redoks antara logam dan asam berlangsung spontan bergantung pada mudah atau sukarnya logam itu mengalami oksidasi (kuat ataulemahnya sifat reduktor).Alessandro Volta melakukan eksperimen dan berhasil menyusun deretkeaktifan logam atau deret potensial logam yang dikenal dengan deret Volta.

Li K Ba Ca Na Mg Al Nu Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn (H) Cu Ag Hg Pt Au

Semakin ke kiri suatu unsur dalam deret Volta, sifat reduktornya semakin kuat. Artinya, suatu unsur akan mampu mereduksi ion-ion unsur di sebelah kanannya, tetapi tidak mampu mereduksi ion-ion dari unsur di sebelah kirinya.

1.2   Rumusan Masalah

1.      Apakah semua reaksi dalam percobaan merupakan reaksi redoks spontan

2.      Bagaimanakah  terjadinya reaksi redoks spntan?


1.3 Tujuan Penelitian

1.   Untuk mengetahui ciri-ciri reaksi redoks spontan
2.   Untuk mengetahui proses reaksi redoks spontan

1.4 Manfaat Penelitian

1.   Agar dapat mengetahui ciri-ciri reaksi redoks spontan
2.   Agar dapat mengetahui proses reaksi redoks spontan

1.5 Hipotesis Penelitian
1.      Semua reaksi yang dalam percobaan merupakan reaksi redoks spontan.
2.      Reaksi redoks spontan merupakan rekasi eksoterm.
















BAB II

METODE PENELITIAN


2.1  Waktu dan Tempat Praktikum

a.          Waktu : Selasa, 3 Oktober 2017
b.         Tempat : Laboratorium Kimia SMA Negeri 1 Tuban

2.2     Variabel Praktikum

a.          Variabel kontrol          : Alat praktikum, konsentrasi (0.1 M) dan volume   larutan uji (30 ml),
b.         Variabel bebas             : Jenis larutan uji (CuSO4 dan ZnSO4), lempeng logam (Zn, Al, dan Cu)
a.         Variabel terikat            : Reaksi spontan atau tidak spontan

2.3  Alat dan Bahan

1.         Gelas beker
2.         Termometer
3.         Pipet tetes
4.         Gelas ukur
5.         Larutan CuSO4 0,1 M
6.         Larutan ZnSO4 0,1 M
7.         Lempeng logam Zn
8.         Lempeng logam Cu
2.4 Langkah Kerja
1.      Siapkan dua gelas beker, beri nomor I dan II
2.      Masukkan 50 ml larutan CuSO4 0,1 M ke dalam gelas beker I
3.      Masukkan sepotong lempeng logam zink (Zn) kedalam gelas beker I
4.      Ukur suhu awal dan suhu selama reaksi berlangsung
5.      Masukkan 50 ml larutan Zn SO4 0,1 M ke dalam gelas beker II
6.      Masukkan sepotong lempeng logam tembaga (Cu) ke dalam gelas beker II
7.      Ukur suhu awal dan suhu selama reaksi berlangsung
8.      Catat semua perubahan yang terjadi

 




BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN



3.1 Hasil Pengamatan


Gelas Beker
Pengamatan
Tawal
Takhir
Larutan CuSO4 + Zn
28,5
29
Larutan ZnSO4+ Cu
28,5
29


3.2 Pembahasan

Pada gelas beker I (larutan CuSO4) ketika ditambahkan lempengan logan Zn terjadi kenaikan suhu sebesar 0,50C (dari 28,50C menjadi  290C) hal ini berarti reaksi redoks larutan CuSO4 dengan logam Zn merupakan reaksi redoks spontan yang bersifat eksoterm. Selain mengalami kenaikan suhu, reaksi  redoks larutan CuSO4 dengan logam Zn, mengakibatkan logam Zn terkikis yang ditandai dengan butiran- butiran kecil logam Zn mengendap di dasar gelas beker. Saat proses reaksi berlangsung warna logam Zn menjadi lebih hitam serta muncul gelembung- gelembung kecil di sekitar lempeng logam Zn. Merujuk pada tabel potensial reduksi standar, Eo Cu2+  adalah +0.34 volt sedangkan Eo Zn2+  adalah -0,76 volt, dalam teori dijelaskan semakin besar Eo maka logam akan mudah tereduksi. Sehingga dalam hal ini, logam Zn merupakan reduktor sedangkan larutan CuSO4 merupakan oksidator.
Pada gelas beker I (larutan CuSO4) ketika ditambahkan lempengan logam Fe terjadi kenaikan suhu sebesar 0,50C (dari 28,50C menjadi  290C) hal ini berarti reaksi redoks larutan CuSO4 dengan logam Fe merupakan reaksi redoks spontan yang bersifat eksoterm. Saat reaksi berlangsung larutan ion Cu2+ tereduksi menjadi padatan Cu yang kemudian melapisi logam Fe. Pelapisan logam Fe oleh padatan Cu ini terjadi karena Eo Cu2+ (+0.34 volt) lebih besar daripada Eo Fe2+ (-0.44 volt). Sehingga dalam hal ini reaksi  larutan CuSO4 merupakan oksidator sebab mengalami reduksi sedangkan logam Fe merupakan reduktor karena mengalami oksidasi.
Pada gelas beker 2 (larutan ZnSO4) ketika ditambahkan lempengan logam Cu tidak mengalami perubahan apapun (tidak terjadi reaksi) baik itu kenaikan suhu maupun reduksi atau oksidasi pada ion- ionnya. Merujuk pada tabel potensial reduksi standar (Eo), Eo ion Zn2+ lebih kecil dari Eo ion Cu2+, sehingga seharusnya terjadi reduksi logam Cu dan oksidasi larutan ZnSO4. Namun logam Cu merupakan padatan yang memiliki biloks nol sehingga tidak dapat mengalami reduksi sebab batas biloks Cu adalah 0-2. Oleh sebab itu reaksi ini dakatakan sebagai reaksi redoks tidak spontan. Untuk menspontankan reaksi redoks tidak spontan dapat dilakukan proses elektrolisis dengan menghubungkan anoda pada kutub positif baterai dan katoda pada kutub negatif baterai.

                       

3.3  Pertanyaan

1.   Reaksi manakah yang berlangsung spontan
2.   Bagaimanakah sifat reaksi redoks spontan termasuk, eksoterm ataun endoterm?
3.   Buatlah kesimpulan dari kegiatan ini
4.   Susunlah laporan praktikum dengan format yang jelas

3.4 Jawaban

1.      Reaksi manakah yang berlangsung  spontan?
Jawab:
1)      Reaksi CuSO4 dan Zn
Katoda  : Cu2+ (Aq) + 2e → Cu(s)                                Eo = + 0.34 Anoda                  : Zn(s) → Zn2+(Aq)  + 2e                      Eo = + 0.76 V
Redoks : Cu2+ (Aq) + Zn(s) → Cu(s) + Zn2+(Aq)      Eo = + 1.1   V


2)      Reaksi CuSO4 dan FE
Katoda  : Cu2+ (Aq) + 2e → Cu(s)                                Eo = + 0.34 V
Anoda               : Fe(s) → Fe2+(Aq)  + 2e                         Eo = + 0.44V
Redoks : Cu2+ (Aq) + Zn(s) → Cu(s) + Zn2+(Aq)      Eo = + 0.78 V

2.      Bagaimana sifat reaksi redoks spontan tersebut, eksoterm atau endoterm?
Jawab:
Reaksi redoks spontan bersifat eksoterm sebab saat proses reaksi terjadi kenaikan suhu sebesar 0,50C.
3.      Buatlah  kesimpulan dari kegiatan ini!
Jawab:
Reaksi redoks spontan merupakan reaksi eksoterm yang ditandai dengan kenaikan suhu sistem saat proses reaksi berlangsung. Reaksi redoks spontan dapat terjadi ketika Eo oksidator lebih besar dari Eo reduktor sehingga Eosel berharga positif. Reaksi redoks tidak spontan dapat terjadi ketika biloks oksidator mencapai batas minimal sehingga tidak mungkin mengalami penurunan biloks. Selain itu, reaksi redoks tidak spontan juga terjadi karena Eosel berharga negatif. Untuk menspontankan reaksi redoks tidak spontan dapat dilakukan proses elektrolisis.








BAB IV

PENUTUP



4.1. Simpulan

Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan kami dapat menyimpulkan, reaksi redoks spontan merupakan reaksi eksoterm yang ditandai dengan kenaikan suhu sistem saat proses reaksi berlangsung. Reaksi redoks spontan dapat terjadi ketika Eo oksidator lebih besar dari Eo reduktor sehingga Eosel berharga positif. Reaksi redoks tidak spontan dapat terjadi ketika biloks oksidator mencapai batas minimal sehingga tidak mungkin mengalami penurunan biloks. Selain itu, reaksi redoks tidak spontan juga terjadi karena Eosel berharga negatif. Untuk menspontankan reaksi redoks tidak spontan dapat dilakukan proses elektrolisis.

4.2 Saran

   Saran dalam melakukan praktikum:
a.Mentaati peraturan yang telah ditetapkan dalam Laboratorium.
b.      Mengikuti prosedur yang telah disediakan dengan baik.
c.Berhati-hati, tidak ceroboh, dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan praktikum.
d.      Membersihkan peralatan praktikum setelah digunakan.
e.Mengembalikan peralatan praktikum pada tempat semula setelah digunakan.
f.    Berhati hati saat menuangkan larutan
g.      Bersihkan Cu dan Zn terlebih dahulu agar hasil dapat maksimal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

teks ulasan film filosofi kopi

Peranan mahasiswa dalam memperjuangkan reformasi

Materi HIV/AIDS